Gooretro

http://gooretro.blogspot.com

Filosofi Kain Batik

Dalam bahasa Jawa, sido luhur berasal dari kata sido yang berarti jadi, mendapatkan, atau berhasil. Sedangkan, luhur berarti mulia atau sesuatu yang bernilai atau berkedudukan tinggi. Dengan demikian, sido luhur berarti berhasil mencapai kedudukan yang tinggi atau mulia.

Konon, batik motif Sido Luhur diciptakan oleh Ki Ageng Henis (kakek dari Panembahan Senopati). Dalam pembuatannya, harus dilakukan dengan cara menahan napas berlama-lama. Pabrik Kain Batik motif Sido Luhur didptakan khusus oleh Ki Ageng Henis untuk anak keturunannya dengan harapan agar bersikap dan bertindak luhur sehingga dapat berguna bagi masyarakat banyak. Batik motif Sido Luhur banyak dikenakan oleh temanten putri pada malam pengantin.

Batik motif ini mempunyai makna filosofi keluhuran budi. Keluhuran budi artinya dalam hidup tidak hanya mengejar kecukupan materi, namun juga dalam bentuk kecukupan nonmateri.

Motif Gringsing

Kain Gringsing sebenarnya berasal dari Tenganan, Bali. Dalam bahasa Bali, gringsing berasal dan kata gring yang berarti sakit dan sing yang berarti tidak. Secara harafiah, gringsing berarti tidak sakit. Dalam upacara adat di Bali, kain Gringsing berfungsi sebagai semacam tolak bala.

Berbeda dengan kain tenun Gringsing dari Bali, menurut Kitab Negarakertagama dan Serat Pararaton, batik motif Gringsing termasuk motif batik tertua. Batik motif ini digambarkan berupa lingkaran atau bulatan sebagai pusat dengan titik di tengah yang disebut sedulur papat lima pancer. Batik motif ini merupakan simbol tentang keseimbangan, kemakmuran, dan kesuburan dalam kehidupan manusia.

Dalam perkembangannya, batik motif Gringsing digambarkan dengan sisik ikan yang menjadi latar belakang buketan yang indah merekah. Sisik ikan dilukiskan dengan warna putih dengan garis pembatas warna soga (cokelat) dan diisi dengan cecek becek.

Dengan memakai pabrik kain batik motif Gringsing. diharapkan pemakainya mendapatkan keindahan, keharuman, dan kemuliaan bagaikan bunga, serta memperoleh kekayaan yang berlimpah bagai jumlah sisik ikan yang tidak terhitung.

Batik Indonesia senantiasa tumbuh dan berkembang mengikuti pembahan zaman. Batik sangatlah adaptif, sehingga ia selalu berdialektika dengan perkembangan budaya dan dinamika sosial masyarakat. Mulai dari zaman kerajaan Hindu-Budha, penyebaran agama Islam, penjajahan Belanda dan pendudukan Jepang, hingga masa kemerdekaan Indonesia dewasa ini, batik senantiasa berkembang seiring dengan derap panjang sejarah tersebut.

Daerah persebaran batik dan pembahan aneka motif batik pun sangat dipengaruhi oleh perkembangan budaya dan dinamika sosial masyarakat. Di daerah-daerah itu, seni dan keterampilan membatik tumbuh dan berkembang sesuai dengan karakteristiknya masing-masing. Walaupun perkembangan batik antardaerah saling memengaruhi, namun semua daerah itu mempunyai sejarah dan keunikan batik tersendiri.

Dalam ruang dan waktu yang relatif bersamaan, batik Indonesia di berbagai daerah itu juga tidak terlepas dari interaksi dengan budaya bangsa-bangsa lain.

Namun, batik Indonesia terbukti liat dan tangguh tetap menghadirkan keunikannya sendiri. Berbeda dengan batik negara lain, nilai dan keindahan batik Indonesia bukan hanya terletak pada kenampakan fisik seperti motif dan warna batik. Batik Indonesia merefleksikan teknik dan keterampilan, sejarah, simbol, identitas sosial budaya, spiritualitas, dan filosofi suatu masyarakat. Keseluruhan nilai dan makna itulah yang mendasari jasa seo jepara akhir suatu hasil karya batik. Hasil akhir suatu karya batik mencerminkan kesungguhan hati, kedalaman perenungan, ketekunan, dan kesabaran dalam pembuatannya