Ada seorang atasan yang memarahi bawahannya

Ada seorang atasan yang memarahi bawahannya dengan kata-kata yang keras dan menghindari kata-kata yang lebih bijak. Rupanya sang atasan ini tidak ingin dirinya dianggap pemimpin yang lemah karena berkata-kata bijak. Berikut ini adalah kisah seorang rekan yang tadinya belum bisa memilih kata-kata bijak.
Pada akhirnya dengan berkata-kata bijak dirinya pun memiliki pemahaman yang lebih baik tentang hidupnya. Seorang rekan bernama Rizki sangat kecewa ketika mendapat kabar bahwa dia mendapat penempatan kerja di sebuah kota kecil. Hati Rizki begitu terkoyak mendengar berita itu. Dia begitu menginginkan mendapat tempat kerja di wilayah pulau Jawa saja, namun jasa seo surabaya pada kenyataannya dia mendapat tempat kerja di daerah yang sama sekali di luar perkiraannya.

Ketika kami tanya kabarnya

Beberapa hari wajahnya tampak murung tanpa senyuman, meski saya dan teman-teman yang lain mengajaknya berbicara dan bercanda. Dari sorot matanya tampak redup seolah dia memikirkan masa depan kariernya yang tak akan cemerlang. Di saat seperti itu Rizki masih belum mendapatkan kekuatan untuk bangkit meski teman-temannya terus menyemangati.

Pas di hari ketiga, kami teman-temannya mendapat sebuah kejutan. Dari jauh tampak Rizki menampakan wajah cerah dan menebar senyuman kepada siapa pun yang ia temui di kantor saat itu. Hal itu sangat berbeda dengan hari-hari sebelumnya setelah pengumuman penempatan itu.

Ketika kami tanya kabarnya, dia memang sudah bangkit dan bersemangat Kata-kata yang keluar dari mulutnya pertama kali, yang disampaikan secara tajam pada kami teman-temannya, "jangan khawatir sobat,di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung." Kami semua ikut tertawa ngan kata-kata bijak dari Rizki. Rupanya dia telah mampu lebar de 58 Masith Perlulah Berkata Bijak?

Seandainya Rizki tidak memilih

memilih untuk bersikap dan berkata-kata bijak sehingga kemudian bangkit dan menerima penempatan kerja yang jauh di kota kecil itu.

Seandainya Rizki tidak memilih kata-kata bijak itu tentu saja belum tentu mengubah sikap dan semangat hidupnya, bisa jadi ia stres berkelanjutan. Beberapa tahun setelah itu Rizki menjalani hidupnya dengan bahagia. Dan ia pun dipertemukan pula dengan seorang gadis dari kota kecil itu yang menjadi pasangan hidupnya.

Ada sebuah bukti yang menginspirasi saya bahwa berkata-kata bijak adalah sebuah pilihan. Di pertengahan tahun 2015 ini muncul sebuah fenomena toko jam digital masjid di Jakarta bernama go-jek. Sarana angkutan umum dengan motor yang lebih modern, lebih lengkap dari sekadar ojek biasa.

Ada sebuah bukti yang menginspirasi

Gojek menggunakan sarana alat komunikasi sehingga gojek bisa dipanggil oleh siapa pun yang membutuhkannya. Gojek dilengkapi pula dengan argo sehingga tarifnya akan lebih pasti dibanding ojek yang biasa. Perkembangan gojek ternyata membawa efek. Salah satu efeknya adalah mulai tersingkirnya sarana ojek biasa yang mulai ditinggalkan konsumennya. Puncaknya adalah berefek pada penganiayaan para pengendara gojek oleh sekumpulan pemilik ojek biasa (ojek pangkalan). Kasus ini terjadi karena pengendara ojek merasa sumber rejekinya menjadi berkurang dan cenderung sepi.

Di beberapa tempat bermunculan spanduk yang isinya menolak keberadaan gojek oleh para pengendara ojek biasa. Tentu saja hal ini memberikan suasana panas dan tak kondusif. Namun demikian, rupanya tidak semuanya pengendara ojek bersikap demikian. Ternyata ada pula pengendara ojek yang bersikap bijak.