Anak-anak perlu mengetahui

Anak-anak perlu mengetahui bahwa mereka dapat bertahan selama periode pencarian identitas diri mereka. Jika mereka tidak mengembangkan suatu rasa aman selama periode ini, efek-efeknya bisa secara dramatis mempengaruhi arah dan pilihan masa depan si anak dalam hidupnya. Tentu saja, cara setiap anak merespons krisis identitas itu berbeda-beda, itu sebabnya pengamatan dan kepekaan orangtua sangat penting. Seorang guru dengan tiga puluh anak tidak jam digital masjid mungkin menyadari pilihan dan kebutuhan setiap anak yang berbeda pada tahap kehidupan ini.

Ayah saya yang pandai tidak mengetahui karya Rudolf Steiner, tapi dia mengetahui periode perkembangan ini dalam hidup seorang anak. Ketika dia memperhatikan bahwa saya tidak berhasil baik di sekolah, dan bagaimana menjadi teman Andi si Semut mempengaruhi saya ketika saya diberi tahu bahwa Andi jenius dan saya tidak, dia mulai mengamati dan membimbing saya lebih dekat. Itu sebabnya dia mendorong saya untuk lebih banyak berolah raga. Dia tahu bahwa Andy belajar dengan membaca dan saya belajar dengan mengerjakan. Dia ingin saya tahu bahwa saya pun dapat bertahan secara akademik dengan cara saya sendiri. Dia ingin saya menemukan sebuah cara untuk mempertahankan keyakinan-diri saya di sekolah, sekalipun itu melalui olah raga daripada pelajaran.

Keluarga kami juga mempunyai masalah keuangan ketika itu. Saya menduga ayah saya yang pandai menyadari bahwa ketidakmampuannya untuk menghasilkan cukup uang sangat mempengaruhi saya. Dia tahu bahwa saya sering pulang ke rumah dan melihat ibu saya menangis karena banyaknya rekening yang harus dibayar. Saya rasa dia tahu bahwa saya mungkin akan mulai mencari sebuah identitas yang berbeda dari dia, dan memang begitu. Saya mulai belajar dengan ayah kaya saya pada umur sembilan tahun. Dalam refleksi, saya mencari jawaban-jawaban saya sendiri tentang bagaimana saya bisa membantu keluarga saya dalam masa kesulitan ekonomi itu. Saya betul-betul mencari sebuah identitas yang berbeda dari ibu dan ayah saya.

Heading

Formula Adrian Versus Formula Saya

Karena pengalaman sekolah Adrian positif, sangatlah masuk akal bila dia bersekolah lagi untuk mempelajari sebuah profesi baru. Formula belajar saya berbeda. Formula itu saya pelajari pada waktu berumur sembilan tahun, yakni formula untuk mencari seorang penasihat dan belajar dengan melakukan. Sampai sekarang saya masih mencari penasihat untuk belajar dari mereka. Saya mencari penasihat yang sudah melakukan apa yang ingin saya lakukan, atau saya mendengarkan kaset-kaset mereka yang memberi tahu saya apa yang sudah mereka lakukan. Saya juga jam digital masjid membaca, tetapi ini hanya sebagai cara terakhir. Daripada kembali ke sekolah bisnis untuk belajar tentang bisnis, saya membangun bisnis saya sendiri, karena saya belajar dengan melakukan, bukan dengan duduk di ruang kelas.

Saya akan mencari penasihat, melakukan sesuatu, membuat kesalahan, dan kemudian mencari buku dan kaset yang memberi tahu bahwa apa yang saya lakukan salah dan apa yang dapat saya pelajari dari kesalahan itu. Sebagai contoh, ketika kampanye pemasaran dalam salah satu bisnis saya mulai gagal, saya mengikuti sebuah studi dan model riset untuk menemukan jawaban-jawaban baru. Sekarang saya menjadi seorang pemasar sangat baik tetapi saya tidak akan berhasil seperti itu jika saya hanya duduk di ruang kelas, membaca buku, dan mendengarkan guru-guru yang mungkin, atau mungkin tidak, mempunyai perusahaan mereka sendiri.

Setiap anak pasti akan memiliki formula kemenangan yang berbeda dan unik untuk belajar.