Catatan Akhir

Saya mengajar orang dewasa. Ketika saya mengatakan kepada mereka bahwa nasihat ”Pergilah ke sekolah supaya mendapat pekerjaan” itulah yang menjebak mereka, banyak yang mengangkat tangan dan meminta penjelasan lebih lanjut. Banyak yang sungguh https://jamnesia.net/ mengerti bahwa itu adalah nasihat baik bagi anak-anak, tapi nasihat buruk bagi orang dewasa tapi sekarang mereka ingin tahu lebih banyak.

Dalam salah satu kelas saya di mana diskusi itu terjadi, seorang peserta bertanya, ”Tetapi bagaimana memiliki sebuah pekerjaan baik bisa menjebak anda?”

”Pertanyaan yang bagus,” kata saya. ”Bukan pekerjaan itu yang menjebak anda. Kalimat terakhir yang ditambahkan pada pernyataan 'Pergilah ke sekolah supaya kelak mendapat pekerjaan' itulah yang menjebak anda.”

”Kalimat terakhir?” tanya peserta, ”Kalimat terakhir mana?”

”Kalimat terakhir yang bunyinya, “Bermainlah dengan aman dan jangan membuat kesalahan?”

Apakah Anak Anda Bisa Pensiun Umur Tiga Puluh?

Suatu hari saya bertanya pada ayah kaya saya mengapa ia sangat kaya. Jawabannya adalah, ”Karena aku pensiun dini. Jika tidak perlu bekerja, kamu punya banyak waktu untuk menjadi kaya.”

Melalui Cermin

Di bab terdahulu yang membahas topik pekerjaan rumah, ayah kaya saya berkata, ”Kamu tidak bisa menjadi kaya di tempat kerja, kamu jadi kaya di rumah. Itu sebabnya kamu harus mengerjakan pekerjaan rumahmu.” Ayah kaya melakukan pekerjaan rumahnya dengan mengajari saya formula memperoleh kekayaan besar dengan bermain Monopoli. Saat meluangkan waktu untuk melakukan permainan ini dengan anaknya dan saya, ia berusaha membawa pikiran kami ke dalam sebuah dunia yang hanya dilihat sedikit orang. Di antara usia sembilan dan lima belas tahun, secara mental saya menyeberang dari dunia ayah miskin saya ke dalam dunia ayah kaya saya. Dunia baru ini sama saja di mata semua orang; hanya persepsinya yang berbeda. Saya jadi bisa melihat hal-hal yang sebelumnya tidak bisa saya lihat.

Dalam kisah Alice in Wonderland karangan Lewis Caroll, Alice masuk lewat cermin ke dalam sebuah dunia yang berbeda. Ayah kaya membawa saya masuk ke dalam cerminnya melalui permainan Monopoli dan membiarkan saya melihat dunia melalui matanya… dari sudut pandangnya. Alih-alih mengatakan, ”Pergilah ke sekolah, raihlah nilai yang bagus, dan carilah https://sekaliklik.id/jam-digital-masjid/ pekerjaan yang aman dan menjamin,” ia malah terus mendorong saya untuk mengubah pandangan saya dan berpikir dengan cara lain. Ia tak hentinya berkata, ”Beli empat rumah hijau, jual, dan kemudian beli satu hotel merah. Inilah formula yang akan menjadikanmu orang kaya ketika kamu besar nanti.” Waktu itu saya tidak tahu apa yang ia inginkan untuk saya lihat, tapi saya tahu ia ingin agar saya mengetahui sesuatu yang bisa dirasakannya, yang saat itu tidak saya lihat.